Mampukah Indonesia Capai SDGs dalam Bidang Kesehatan?

Perserikatan Bangsa-bangsa telah menetapkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan 169 capaian hingga tahun 2030. SDGs merupakan kelanjutan dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang ditandatangani oleh 189 negara, salah satunya Indonesia. Salah satu target yang harus dipenuhi dalam tujuan ketiga yakni kesehatan yang baik adalah mengurangi sepertiga angka kematian prematur akibat penyakit tidak menular. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes dr Lily S Sulistyowati mengatakan, Indonesia berfokus pada empat penyakit tidak menular utama, yaitu kardiovaskular, diabetes melitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Keempat penyakit itu merupakan penyebab dari 60 persen kematian. Hingga tahun 2025, Indonesia juga ikut dalam sembilan target global pengendalian penyakit tidak menular. Jika dilihat, target tersebut tampak ambisius. Sebagai contoh adalah target penurunan konsumsi tembakau sebesar 30 persen, tidak ada peningkatan diabetes atau obesitas, dan penurunan kematian akibat penyakit tidak menular, seperti jantung, kanker, dibetes, serta penyakit paru kronik, sebesar 25 persen. “Ini target yang cukup ambisius dengan target global seperti itu. Menurunkan prevalensi diabetes 30 persen itu sesuatu banget,” kata Lily di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (14/11/2017). Untuk diabetes saja, Indonesia menempati urutan ke-7 sebagai negara dengan prevalensi diabetes terbanyak di dunia (10 juta). Kemunculan diabetes juga timbul pada usia penduduk yang semakin muda. 1,67 juta penduduk yang mengidap diabetes berada pada usia dibawah 40 tahun. Lalu, 4,65 juta penduduk pengidap diabetes berkisar antara umur 40-59 tahun. Sisanya, sebanyak 2 juta penduduk berusia antara 60-79 tahun. Bila ditengok, sepuluh penyebab kematian utama di semua umur berdasarkan sample registration system (SRS) pada 2014, penyakit tidak menular menempati persentase yang cukup besar. Penyakit stroke sebesar 21,1 persen, penyakit jantung koroner 12,9 persen, diabetes melitus disertai komplikasi 6,7 persen, hipertensi dengan komplikasi 5,3 persen, penyakit paru obstruksi kronis 4,9 persen. Menurut Lily, untuk mencapai target tersebut diperlukan kerjasama lintas kementerian. Penanganan kesehatan tak cukup hanya berfokus pada Kementerian Kesehatan semata. “Gerakan masyarakat hidup sehat harus lintas kementerian. Terintegrasi, semuanya ikut berperan. Kalau ibu hamil terus jalanannya butut banget terus ke puskesmas jadi lambat. Bukan Kemenkes yang membuat jalan. Itu peran dari kementerian lain,” kata Lily.

Trackback from your site.

Ignasius Axel Hutomo

Ignasius Axel Hutomo

Co-Founder and Chief Technology Officer in Inovator Nusantara. Currently majoring civil engineering in Udayana University. Eager to work with people and collaborating ideas.

Comments (1)

  • Avatar

    PatrickJuicy

    |

    I often visit your blog and have noticed that you don’t update it often.
    More frequent updates will give your blog higher rank & authority in google.
    I know that writing content takes a lot of time, but you can always help yourself with miftolo’s tools
    which will shorten the time of creating an article to a
    couple of seconds.

    Reply

Leave a comment

Tentang Kami

Inovator Nusantara merupakan organisasi kepemudaan nasional yang berfokus pada upaya mengeksistensikan peran pemuda dalam memberikan karya nyata bagi indonesia.

Program Kami

Great Indonesian Leaders Summit
PemikiranMu
Musyawarah Nasional
Lomba Essay Nasional
Regional Inovator Nusantara

Inovator Nusantara

%d bloggers like this: